29 November 2010

Banjir di Kota Samarinda, Akibat Tambang Batubara?

Banjir terus menghantui kota Samarinda. Kota yang konon telah menyimpan sejarah panjang dalam hal kebanjiran. Karena dataran kota yang relatif rendah terhadap tinggi air Sungai Mahakam, maka kota ini sangat rentan terhadap adanya curah hujan yang berintensitas tinggi. Namun setelah hidup di kota ini selama hampir 25 tahun, rasanya banjir semakin parah di 2-3 tahun terakhir ini. Ini adalah banjir di sekitar Jl. DI. Panjaitan yang merupakan poros utama jalan dari kota Samarinda ke Bontang. Jika hujan deras datang, dalam waktu minimal 30 menit, maka jalan ini akan langsung terendam air. Gilanya, air yang mengalir di jalan ini benar-benar bernuansa "sungai" karena arusnya yang sangat deras. Di sekitar jalan ini, terdapat banyak kegiatan "perusakan" lahan, terutama lahan eksploitasi batubara dengan metode tambang terbuka (open pit). Juga terdapat dua kawasan perumahan elite yag juga menggunduli dan memotong tanah secar masif. Apakah memang semua itu berkontribusi terhadap banjir yang makin parah? saya yakin jawabannya "ya".


19 November 2010

Kearifan Lokal Dayak Malinau

Daerah Kabupaten Malinau adalah salah satu lokasi di dunia ini yang masih memiliki kawasan tertutup hutan tropis basah yang asli dalam luasan yang sangat besar. Didalamnya hidup suku Dayak yang konon telah ratusan tahun membangun peradabannya. Dalam banyak literatur disebutkan bahwa suku ini memiliki banyak hal yang luar biasa yang dibangun dari kehidupan mereka yang berdampingan dengan alam selama ratusan tahun.

Dalam perjalanan ke Desa Setulang di kabupaten ini, saya dan rombongan BMZ Germany masuk ke hutan menggunakan berbagai mobil off-road canggih, salah satunya Toyota Fortuner. Namun dalam perjalanan didalam hutan, mobil canggih ini terperosok lumpur dan tak mampu keluar walaupun sudah menggunakan "dobel gardan" (four-wheel drive). Di tengah hutan ini, rombongn menjadi kebingungan karena tidak menyiapkan peralatan standar masyarakat modern yaitu tali baja (sling) yang biasanya dipakai untuk menarik kendaraan yang terperosok.


Jamuan Makan Siang Ala Dayak di Desa Setulang Malinau

Sungguh suatu kehormatan bagi saya dapat menikmati hal yang sungguh langka ini. Perjamuan makan siang dari masyarakat Dayak yang tinggal di Desa Setulang, Kabupatan Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Perjamuan ini dilakukan di tengah hutan Tana' Olen (1 jam perjalanan dari desa), di bantaran sungai berbatu, di bawah pepohonan hutan tropis asli, di pinggir gemericik arus air sungai nan jernih, luar biasa. Saya datang dengan rombongan dari BMZ Germany.

Makanannya? Nasi yang dibungkus daun, daging payau yang seperti dioseng, lalapan batang bambu muda yang bisa dikunyah karena lembut nan renyah, sayur daun pepaya muda, sayur jamur dicampur darah/getah pohon hutan, ikan duri lunak ala, kerupuk tepung beras, dll. Agak aneh di lidah, namun secara umum OK. Minuman pembuka adalah air kelapa gading yang dihisap menggunakan sedotan batang bambu. Sungguh alami dan eksotis.


18 November 2010

Memasak Presto Ala Dayak Malinau

Di pertengahan bulan November 2010, saya mendapat kesempatan langka menjelajahi tanah Dayak di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah ini terkenal seantero jagat karena masih memiliki kawasan hutan alam tropis yang masih perawan dalam luasan yang besar. Salah satunya adalah wilayah Desa Setulang. Dalam perjalanan ini, saya sempat diceritakan tentang satu kearifan lokal yang konon telah terjaga ratusan tahun, yaitu metode memasak tradisional ala "presto cooking".