25 April 2009

Amazing Map Technology

Perkembangan teknologi perpetaan digital sungguh luar biasa maju saat ini. Beberapa yang ingin saya share disini adalah Microsoft 3D Maps dan Google Maps Street View. Jadi, peta konvensional yang biasa kita kenal diatas kertas, tulisan, gambar jalan dll sudah jauh tertinggal. Dua contoh berikut ini adalah bentuk 3 dimensi dari peta yang sangat detail. Ini baru 2 contoh, belum lagi teknologi lain seperti Google Erath dan Google Lattitude misalnya yang bisa diintegrasikan dengan teknologi GPS sehingga pergerakan suatu objek bisa di-track secara realtime dan bisa di-share online.

See Microsoft 3D Maps (surprise... you can use you Firefox browser)


>> New York City in Microsoft 3D Maps


See Google Maps Street View


>> New York City's Times Square in Google Maps Street View



19 April 2009

Toko Pempek Online, Bisakah Sukses?

Karena lama tinggal di kota Jambi yang dekat Palembang dan banyak persamaannya dalam hal budaya termasuk makanan, maka saya adalah penggemar berat pempek Palembang. Namun tidak mudah mencari pempek yang mantap di kota saya di pulau Kalimantan ini. Kalau pun ada biasanya rasa relatif beda, dan biasanya yang enak harganya mahal.

Ternyata sekarang ada juga yang jualan pempek online, bahkan pengelolanya sampai memasang iklan di Facebook untuk mempromosikan toko digital ini. Harga relatif lah... sama dengan kalau kita beli pempek di kota Palembang terus dibawa sebagai oleh-oleh. Bisa langsung dikirim ke rumah kita. Alamatnya di http://pempekcekma.com/ Isi toko online nya juga cukup informatif lengkap dengan jenis, foto dan harga, pesan juga tampaknya gampang. Namun saya belum berniat membeli, karena membayangkan jauhnya mengirim paket dari Palembang ke Samarinda. Jangan-jangan rusak di jalan pempeknya. Anda mau coba, monggo...

Kalau melihat pengalaman Amazon.com saat mengembangkan bisnis toko online dulu, memang salah satu kunci suksesnya adalah barang yang dijual harus cukup kecil agar dapat dengan mudah dikirim melalui pos atau kurir, murah ongkos kirimnya, tahan banting dan tidak gampang rusak di perjalanan, namun memiliki nilai uang yang cukup besar sehingga masih bisa dapat profit margin cukup. Tidak kalah pentingnya, produk haruslah sesuatu yang cukup populer dan memiliki pasar luas sehingga volume penjualan bisa besar. Saat itu Amazon memilih buku yang memang pas dengan pasar Amerika.

Apakah kriteria ini masuk dalam kasus toko online pempek ini? Kita lihat bersama perkembangannya...

Beberapa cuplikan informasi tentang pempek dari situs tersebut yang bahkan saya tidak tahu sebelumnya.

Kelebihan Pempek Kota Palembang Cekma

1. Asli dari Palembang
Kami adalah toko online pempek asli dari Palembang, pempek yang anda pesan akan kami kirim langsung dari Palembang. Dengan jasa pengiriman JNE paket Yakin Esok Sampai, pempek pesanan Anda akan sampai dalam waktu 1 x 24 jam sejak hari pengiriman.

2. Rasa Berkualitas dan Tanpa Bahan Pengawet
Mengutamakan rasa yang lezat serta tidak menggunakan bahan pengawet adalah kelebihan kami. Perlu diketahui bahwa cukup banyak toko pempek terkenal di Palembang yang menggunakan bahan pengawet, disamping tidak baik untuk kesehatan, juga dapat mengurangi citarasa dari pempek tersebut.

3. Pempek Di buat Langsung oleh Cek Ma
seorang asli kelahiran Palembang, puluhan tahun telah bekerja membuat pempek. Pernah bekerja di berbagai Toko Pempek terkenal, toko pempek di Pasar Cinde, hingga telah melayani pesanan untuk catering, pesta, dan berbagai acara pemerintahan.

4. Harga Murah dan Terjangkau tersedia dalam paket-paket pempek
Kami menyiapkan paket pempek dengan harga yang amat murah dan terjangkau. Kami telah mendesain paket sesuai dengan berat per kilogram, mengoptimalkan biaya pengiriman yang anda keluarkan. Semua Paket pempek akan dikemas dan dibungkus rapi. Harga yang kami berikan sudah termasuk Kuah Cuka yang lezat.

Sejarah Pempek

Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek adalah pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.

Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Cuko adalah teman makan pempek yang setia, dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Ada juga cuko manis bagi yang tidak menyukai pedas.

Jenis pempek yang terkenal adalah “pempek kapal selam” adalah telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.

Pempek bisa ditemukan dengan gampang di seantero Kota Palembang. Ada yang menjual di restoran, ada yang di gerobak, dan juga ada yang dipikul. Juga setiap kantin sekolah pasti ada yang menjual pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek bisa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya!. Pempek sekarang ada dua jenis yaitu Parempek campuran antara Pare dan Pempek.

Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.

Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang.

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.

Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti Tenggiri, Kakap Merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah.

10 April 2009

Tulisanku di Kompas Komunitas - KoKi

Citizen journalism mulai menggeliat, cukup banyak media massa besar yang mulai menerapkan pola jurnalisme baru ini. Ada banyak aspek yang berkembang sesuai karakter Indonesia. Ini yang menarik diamati. Ingat juga bahwa media besar asing juga terus mengembangkan bidang ini, mereka juga berkembang sesuai karakter bangsanya. Silahkan lihat situs Kompas Komunitas (KoKi), salah satu citizen jornalism pertama di Indonesia, and by far menurut saya yang paling serius dikembangkan, paling banyak penulisnya dan paling banyak pembacanya. Saya ikut rajin menulis disini dan memang mendapat banyak pembaca dan sebagian pembaca aktif berkomentar. Sebagian besar tulisan yang saya kirim kesana juga saya masukkan ke blog saya, jadi dari sisi isi sama saja dengan blog ini, namun silahkan lihat bagaimana redaktur KoKi memuatnya, dengan editing dan biasanya diberi gambar ilustrasi. Baca dulu KoKiers Profile saya.

Update Juni 2010: Kompas Komunitas - KoKi sudah MATI, seluruh arsip hilang dan tidak bisa diakses lagi. Suatu collective intelligence ukuran besar berbahasa Indonesia lenyap begitu saja. Kompas menggantinya dengan Kompasiana.com. Namun arsip KoKi hilang sama sekali. Sungguh sayang. Saya tidak tahu apa yang mengakibatkan KoKi diganti Kompasiana. Awalnya Kompasiana bukan merupakan jurnalisme warga penuh, hanya beberapa blogger jurnalis yang boleh menulis. Entah kenapa, beberapa waktu kemudian, konsep Kompasiana kembali ke konsep KoKi, namun sudah tanpa restriksi, moderasi dan re-editing lagi. Lalu apa maksudnya KoKi dihilangkan? Jika masalahnya branding and marketing, kan bisa ganti title saja? Jangan menghapus database? Heran...

Berikut beberapa tulisan saya yang sempat dimuat:

Google Knol, Ancaman?
http://community.kompas.com/read/artikel/781

Jumlah Medali PON 2008 Belum Pasti
http://community.kompas.com/read/artikel/756

Google AdWords & AdSense Merugikan Indonesia
http://community.kompas.com/read/artikel/986

Google Translate Bahasa Indonesia Meragukan
http://community.kompas.com/read/artikel/1378

Menggugat Celana Dalam Anti-Bacteria
http://community.kompas.com/read/artikel/790

Tiket Online, Iklan Baris dan Petani
http://community.kompas.com/read/artikel/1666