PTN Favorit Indonesia

Baca Laporan Khusus PTN Favorit di SNMPTN dari AtigaMedia. Berguna untuk para calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan jurusan di PTN, juga untuk para pengelola PTS dalam membaca "selera pasar" jurusan di negeri ini.

25 May 2008

Debat Publik Calon Gubernur Kaltim 2008-2013

Debat publik ini dilakukan di Samarinda tanggal 22 Mei 2008, diselenggarakan dan disiarkan secara langsung oleh Metro TV. Debat disponsori oleh KPU Kaltim, jadi ini adalah debat versi resmi yang sekaligus menandai ditutupnya masa kampanye dan dilanjutkan ke hari pencoblosan 25 Mei 2008.

Seluruh calon hadir lengkap, nomor 1 Awang-Farid, 2 Nusyirwan-Heru Bambang, 3 Amins-Hadi, 4 Jusuf-Luther. Proses debat juga lumayan lancar dan bisa memberi gambaran pada masyarakat untuk menilai secara lebih jernih. Dari banyak teman di Kaltim yang saya hubungi, sebagian besar menonton acara ini dengan antusias, termasuk saya dan istri saya walau hanya sempat menonton sekitar 30 menit terakhir.

Sebagian besar teman-teman yang saya ajak diskusi sepakat bahwa debat ini dimenangkan oleh Jusuf-Luther yang menunjukkan kecerdasan dan pengalamannya serta juga dibarengi kedewasaan dalam bersikap. Saya dan Aidha istri saya juga sepakat 100% bahwa Jusuf memang jauh unggul dibanding pesaing lainnya. Harusnya debat semacam ini dilakukan lebih dari 1 kali, seperti bisa kita lihat di USA misalnya. Kalau hanya berdasar debat 1 kali, penilaian pasti bisa bias.

Apalagi bagi peserta nomor 1 yang langsung dihujam pertanyaan moderator yang tampaknya membuatnya down, mood turun dan kecewa mengenai pemeriksaan KPK atas dirinya. Namun nomor 1 jelas tidak perform bagus di ajang ini. Awang tidang memberikan sedikitpun kesempatan kepada wakilnya Farid untuk ikut bicara. Tipikal arogansi gaya kepemimpinan ybs yang sudah saya tulis sebelumnya. Awang juga selalu melebihi jatah waktu 2 menit yang disediakan padanya untuk mejawab. Awang juga terlihat tendensius dan bernada "desperate" ketika diberi kesempatan mengajukan pertanyaan ke calon lain.

Nomor 2? Well, saya menganggap bahwa mereka berhasil menjadi nomor 2 dalam debat ini. Jelas terlihat bahwa Nusyirwan dan wakilnya Heru Bambang adalah tipikal pemimpin muda yang lebih terbuka, serius dan cerdas. Namun tampak sangat kental sekali keduanya tidak berpengalaman dalam berpolitik, terlihat dari jawabannya yang terlalu "straight to the point". Jelas juga terlihat jiwa birokratnya yang tercermin dari jawabannya yang "melepas" tanggung jawab dan hanya terfokus pada tupoksi jabatannya sebagai Assisten II Provinsi Kaltim dan Sekda Kota Balikpapan. Ditanya soal jalan Kaltim yang hancur, Nusyirwan mengatakan bahwa sebagai Assiten II, ybs tidak memiliki wewenang soal jalan, itu adalah tanggung jawab bidang lain. Bagi saya, ini adalah jawaban tipikal birokrat kita yang sangat sempit cara pandangnya.

Nomor 3? Ini adalah duet pelawak yang hobinya guyon tapi sama sekali tidak menguasai masalah. Amins sama sekali tidak memiliki kemampuan berbicara didepan publik. Pengetahuannya juga terlihat sangat sempit. Istilah "pendidikan gratis" diartikannya secara sempit dengan akan diturunkannya dana Rp 40 milyar untuk mengganti biaya uang partisipasi siswa baru yang akan masuk sekolah di Samarinda. Hal yang baru akan dilaksanakannya di Kota Samarinda itu dijanjikannya akan dilakukan di seluruh provinsi bila dia menang. Amins juga selalu menjawab pertanyaan dalam waktu kurang dari 1 menit, padahal waktu yang disediakan 2 menit. Bagi saya, ini adalah tanda bahwa dia tidak bisa menjawab. Dan jawabannya pun selalu guyon saja...

Wakilnya? Hadi adalah seorang da'i PKS yang mumpuni. Sebelum ini dalam sebuah khutbah Jumat di mesjid dekat rumah saya, Hadi berhasil membuat saya dan banyak orang menitikkan air mata haru ketika dia bercerita tentang kisah-kisah Rasulullah. Harus diakui ybs adalah penceramah yang sangat handal. Hadi banyak mengambil alih untuk mejawab pertanyaan yang tidak bisa dengan baik dijawab Amins. Namun dari caranya berbicara dan melontarkan singgungan-singgungan ke peserta lain, saya merasa bahwa sebagai calon gubernur, Hadi masih harus lebih banyak belajar...

Akhirnya, Jusuf-Luther... Jusuf jelas memperlihatkan kecerdasan, penguasaan masalah serta kepekaannya terhadap masalah-masalah riil masyarakat di lapangan. Jawaban selalu tepat sasaran, kritikan juga dijawab bijak dan tidak "menohok" lawan. Overall, Jusuf menang dalam depat ini. sayang saya sama sekali tidak menyaksikan saat Luther berbicara, jadi no comment atas hal ini.

Saya ingatkan bahwa pendapat saya diatas didasarkan atas pada pengamatan sempit didalam acara debat saja. Mudah-mudahan bermanfaat.

Baca juga tulisan saya sebelumnya:

Ditulis menggunakan Asus Eee PC 4G Black sebagian di Bandara Sepinggan Balikpapan dan dituntaskan di hotspot The Coffee Bean Senayan City


7 comments:

SanKo said...

Wah berarti besok gak nyoblos nih pak. Kok di Jakarta.

tunggul said...

coblos nomor 2
saatnya yang muda memimpin

fnoor said...

Secara individu Jusuf SK saat debat tsb memang terlihat lbh unggul. Tapi krn pilkada ini adalah satu paket (cagub dan cawagub) maka menurut saya yg unggul malam itu adalah pasangan nomor 2.

Jgn lupa, pasangan nomor 4 diusung Golkar lho... Msh percaya sama Golkar nih? :-)

fahrozi said...

Saya nggak percaya banget ama no 4.
cagubnya nggak punya wawasan lingkungan, wagub nya mantan mafia ilegal loging. gimana mau didukung ?
masih mau hutan rusak ????

Mohamad Adriyanto said...

iya nih... gak bisa nyoblos :-)

utk para pembaca blog saya, tulisan saya ini adalah "penilaian" tentang proses debat publik (lihat judulnya dong...). kalau siapa yg didukung pd saat pencoblosan, silahkan kembali ke masing2...

saya "dihajar" di bbrp milis gara2 tulisan saya dituduh kampanye disaat masa tenang... :-(

anyway, enaknya jadi blogger, pokoknya tulis terus.... he3...

Anonymous said...

wew...pak adri nih gimana toh komentar anda ini yang tendensius, seharusnya anda sebagai dosen tentunya tau, tidAK dapat menjadi ukuran seorang pemimpin itu memiliki kapabilitas hanya dari 1 kali tampil di depan publik. LUJU memang barangkali memiliki prestasi baik di tarakan tapi apa anda lupa akan kesuksesan AFI memimpin KUTIM yang sangat pesat pertumbuhan ekonominya.
Yang terpenting, 32 tahun indonesia pernah dipimpin seseorang yg tidak vokal dihadapan publik.

Kutim adalah miniatur kaltim.

pajak said...

mantab artikelnya, terima kasih atas infonya