Create your own Hexatar

29 March 2008

Minimnya Musholla di Mal & Hotel Mewah

Hingga saat ini saya suka heran dengan kenyataan minimnya fasilitas untuk melakukan ibadah sholat di gedung-gedung besar nan mewah di negeri ini. Paling tidak yang paling sering saya datangi di kota saya. Dari 2 mal besar yang ada, tidak satupun yang memiliki musholla dedicated dan memadai. Keduanya hanya menggunakan ruang kecil darurat yang juga tidak diurus dengan serius. Pada jam-jam masuk waktu sholat, tempat-tempat itu penuh sesak dan berantakan.

Namun syukur alhamdulillah, di daerah saya dimana pemerintah bergelimang anggaran keuangan yang berlimpah, rata-rata saya lihat instansi pemerintah selalu memprioritaskan pembangunan musholla di lingkungan kantornya masing-masing. Jadi, kontras dengan mal-mal, justru di kantor-kantor pemerintah, kita akan berhadapan dengan musholla yang full AC, bersih dan memang didesain khusus untuk sholat.

Hal ini juga terjadi di semakin banyak sekolah-sekolah negeri yang juga mendapat dana semakin banyak, baik dari anggaran pemerintah maupun sumbangan orangtua siswa. Musholla menjadi salah satu prioritas, walaupun bukan full AC dan tidak besar, serta relatif tidak terurus.

Hotel mewah, fifty-fifty lah... Beberapa yang saya tahu di Samarinda (gak tahu di kota lain), musholla nya relatif baik bahkan bagus sekali. Tetapi di beberapa yang lain sangat memoprihatinkan.

Kanapa bisa begitu ya?

Ada beberapa hal terlintas di kepala saya sebagai penyebabnya. Satu, mungkin karena sedikitnya orang yang peduli (semakin banyak orang muslim tidak sholat?), walau kalau lihat ramainya musholla di jam-jam masuk waktu sholat pendapat ini agak meragukan. Kedua, pemilik gedung yang tidak peduli, tanpa bermaksud SARA, saya lihat yang tidak memiliki musholla memadai adalah gedung-gedung yang dimiliki orang non-muslim. Wajar saja... tapi seharusnya ada gerakan lebih kuat dari para karyawan misalnya untuk menekan pemilik memenuhi kebutuhan paling dasar yang satu ini. Ketiga, mungkin gara-gara para arsitek juga yang tidak punya desain baku yang bagus pada saat menyodorkan desain gambarnya diawal pembangunan gedung-gedung mewah tersebut. Kalau para arsitek sudah punya gambar standard yang memang memasukkan fasilitas ini, mustinya besar kemungkinan pemilik gedung akan ikut saja...

Wallahualam...

Update:
Kebetulan pas ada di Senayan City Jakarta, luar biasa... musholla nya bagus sekali, full ac, ditempatkan di pojok yang luas dan didesain khusus dari awal. ada locker yang dijaga petugas. wanita dan pria memiliki entry door berbeda, ada ruang tunggu luas dimana orang bisa duduk sambil melepas sepatu. hebat... namanya? "executive mosholla" yang ditempel besar didepan lorong masuknya. salut utk pemilik sensi, semoga amalnya diterima disisinya. amin...

Di saat bersamaan, Hotel Ibis Slipi yg lumayan besar dan chic banget... namun musholla nya payah, tanpa ac, sempit, agak kumuh, ditaruh di parkir basement bercampur dengan lokasi tidur2an para cleaning service saat istirahat siang... waktu sholat jumat juga parah sekali, karpet kurang... padahal jamaah nya banyak sekali, sedih...

Written on: Asus Eee PC 4G Black

6 comments:

Hery said...

Kalau saya agak berbeda pendapat pak...
Saya malah mengusulkan agar semua musholla di kantor-kantor ataupun di mall maupun pasar sebaiknya dihancurkan saja...(agak ekstrem yaa..he..he) ...supaya masjid-masjid kita penuh...jadi gak ada alasan ...gimana orang yang sedang travelling? gampang...khan bisa sholat di kendaraan, sambil duduk dimobil, dipesawat atau dimana saja....

Mohamad Adriyanto said...

boleh juga pendapatnya mas... emang kalo dibandingkan di mekkah yg konon kalo azan semua aktivitas tutup dan semua orang menuju mesjid terdekat, maka di mal kita malah 180 derajat bebeda ya? gak inget sholat lagi, terlalu asyik belanja :-)

SanKo said...

Ketika saya kuliah dulu. Semua bangunan umum yang kita desain harus ada mushollanya. Sehingga urusan arah kiblat itu sudah fasih diketahui oleh semua mahasiswa dari semua agama. Biasanya bangunan yang cukup besar akan didesain mushollanya dengan baik bukan sekedar ruang sisa, tapi bahkan sampai ke dinding yang disesuaikan dengan arah kiblat.

Di Samarinda penghargaan kepada arsitek saya rasakan sangat kurang. Sehingga banyak bangunan umum jangankan musholla, syarat untuk keselamatanpun kurang diperhatikan oleh pemilik gedung.

Atau aturan bangunan yang memang masih belum ada di Samarinda?

Mohamad Adriyanto said...

menarik pendapatnya pak sanko yg arsitek beneran. saya pikir betul juga, akar masalahnya ada di pemilik gedung/pemilik modal... kalau peraturan, kayaknya susah juga, biar dibuat sebagus apapun tetap ada saja celah utk menembusnya, terlalu permisif sih kita semua ini... :-)

ariekeren said...

Maaf saya tidak membahas musholanya. Boleh Anda sebutkan hotel mewah yang ada di Samarinda itu dimana? Saya baru tau ya standar waktu jaman 1990-an dulu saja, seperti Senyiur, Mesra, tidak tau yang lain dan AFAIK hotel2x tsb bintang 3 (bukan 5)

Saya lahir dan sempat disana hingga remaja, sudah lama merantau keluar, ingin cari rumah inap yang nyaman..

Anda juga boleh menjawab comment saya ini ke email saya saja juga boleh.

Terima kasih banyak. Maaf bila telah merepotkan.

Mohamad Adriyanto said...

mas ariekeren, kalo jumlah bintangnya terus terang saya gak tahu persis, emang betul sih, kayaknya yg bintang 5 tdk ada di samarinda. selain senyiur dan mesra, saat ini lumayan banyak yg baru, tapi kayaknya bintang 1-2 gitu, ada grand victoria, MJ, grand sawit, JB, golden...

yg favorit sih grand victoria, yg paling baru dan agak mentereng grand sawit.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...